REKTOR ISBI DIAPIT DUA MAENSTRO PENYAIR INDONESIA

Banda Aceh – Suasana sastra yang hangat dan penuh makna mewarnai kegiatan Puitika Tanah Rencong yang digelar pada Senin malam, 27 April 2026, di kawasan Taman Sari Gunongan, Banda Aceh. Kegiatan ini menghadirkan momen istimewa ketika Rektor ISBI Aceh, Prof. Dr.Wildan, M.Pd., duduk bersanding dengan dua maestro penyair Indonesia, Taufik Ismail dan LK Ara.

Momen tersebut menjadi simbol pertemuan lintas generasi dan ruang antara dunia akademik dan khazanah sastra Indonesia. Ketiganya tampak berbincang hangat, memperlihatkan kedekatan emosional yang terjalin melalui kecintaan terhadap dunia literasi dan kebudayaan.

Acara Puitika Tanah Rencong sendiri merupakan ajang silaturahmi para penyair Aceh dengan tokoh sastra nasional. Kehadiran Taufik Ismail sebagai maestro menjadi daya tarik tersendiri, sekaligus ruang belajar bagi para penyair muda untuk menyerap pengalaman dan pandangan dari salah satu tokoh penting dalam sejarah sastra Indonesia modern.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor ISBI Aceh, menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa Puitika Tanah Rencong bukan sekadar pertemuan seremonial, melainkan ruang strategis untuk merawat tradisi intelektual dan kultural masyarakat Aceh.

“Ini bukan hanya ajang temu penyair, tetapi momentum penting untuk memperkuat ekosistem sastra kita. Kehadiran maestro seperti Taufik Ismail memberi energi baru bagi generasi muda agar tidak kehilangan arah dalam berkarya,” ujar Prof. Wildan.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa ISBI Aceh memiliki komitmen kuat dalam menjadikan sastra sebagai bagian dari pembangunan kebudayaan. Menurutnya, kolaborasi antara kampus, seniman, dan komunitas menjadi kunci dalam menjaga kesinambungan tradisi sekaligus mendorong inovasi di bidang sastra.

Ia juga menilai bahwa figur seperti LK Ara memiliki peran penting sebagai jembatan antara tradisi lokal dan wacana nasional. “Kita membutuhkan tokoh-tokoh yang mampu merawat akar budaya sekaligus membuka ruang dialog yang lebih luas. Di sinilah sastra menemukan relevansinya,” tambahnya.

Pantauan di lokasi, para penyair yang hadir mengikuti rangkaian kegiatan dengan antusias, mulai dari pembacaan puisi hingga diskusi terbuka. Suasana berlangsung akrab, dengan sesekali diselingi tepuk tangan peserta.

Melalui kegiatan ini, diharapkan sastra Aceh semakin berkembang dan mampu melahirkan generasi penulis yang tidak hanya produktif, tetapi juga memiliki kedalaman gagasan. Puitika Tanah Rencong pun menjadi ruang temu yang memperkuat jejaring antarpenyair lintas generasi.

 

Share it :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *