Rakyat Aceh | Bireuen – Di tengah sisa-sisa trauma pascabanjir yang masih membekas, pendekatan konvensional tak lagi cukup. Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh justru memilih jalur berbeda yakni dengan menjadikan seni sebagai alat intervensi untuk memulihkan kondisi psikologis anak-anak terdampak di MTsN 2 Bireuen, Selasa (21/4).
Alih-alih ceramah atau konseling formal, ruang kelas diubah menjadi ruang ekspresi. Kertas, pena, crayon dan gerak tubuh menjadi medium bagi siswa untuk “berbicara” tanpa tekanan. Program ini dirancang sebagai respon cepat terhadap kebutuhan pemulihan mental yang kerap luput dari penanganan pascabencana.
Tulisan ini telah tayang di harianrakyataceh.com dengan judul “Saat Trauma Tak Bisa Diredam Kata, ISBI Aceh Pilih Seni untuk Menyembuhkan Anak-anak Bireuen”, klik untuk baca: https://harianrakyataceh.com/news/saat-trauma-tak-bisa-diredam-kata-isbi-aceh-pilih-seni-untuk-menyembuhkan-anak-anak-bireuen.
Ketua tim, Ichsan, M.Sn., menekankan bahwa pendekatan seni bukan sekadar alternatif, melainkan kebutuhan. “Pasca bencana, anak-anak tidak selalu mampu mengungkapkan apa yang mereka rasakan dengan kata-kata. Seni memberi ruang, tanpa paksaan, tanpa batas,” ujarnya.
Tulisan ini telah tayang di harianrakyataceh.com dengan judul “Saat Trauma Tak Bisa Diredam Kata, ISBI Aceh Pilih Seni untuk Menyembuhkan Anak-anak Bireuen”, klik untuk baca: https://harianrakyataceh.com/news/saat-trauma-tak-bisa-diredam-kata-isbi-aceh-pilih-seni-untuk-menyembuhkan-anak-anak-bireuen.
Kegiatan utama berupa eksplorasi visual melalui teknik doodling dalam konsep nirmana. Pola-pola spontan yang dihasilkan menjadi sarana pelepasan emosi sekaligus refleksi batin. Di saat yang sama, aktivitas tari dihadirkan untuk mengembalikan energi kolektif, membangun keberanian, dan memulihkan rasa percaya diri siswa.
Respons positif datang dari pihak sekolah. Kepala MTsN 2 Bireuen, Dr. Ansari, menilai pendekatan ini relevan dengan kondisi siswa yang masih dalam tahap pemulihan. “Pendekatan seperti ini lebih dekat dengan dunia anak-anak. Kami melihat mereka lebih terbuka dan kembali berinteraksi,” ungkapnya.
Rahmat Syauqi, M.Pd., guru yang mendampingi kegiatan, mengamini dampak langsung dari program tersebut. Ia menyebut perubahan terlihat dari ekspresi hingga keterlibatan siswa dalam aktivitas. “Ada pergeseran yang nyata. Mereka mulai lebih hidup, lebih berani,” katanya.
Tulisan ini telah tayang di harianrakyataceh.com dengan judul “Saat Trauma Tak Bisa Diredam Kata, ISBI Aceh Pilih Seni untuk Menyembuhkan Anak-anak Bireuen”, klik untuk baca: https://harianrakyataceh.com/news/saat-trauma-tak-bisa-diredam-kata-isbi-aceh-pilih-seni-untuk-menyembuhkan-anak-anak-bireuen.
Menariknya, kegiatan ini semula dirancang untuk dilaksanakan di kawasan terdampak lain, yakni Gampong Lhok Nga. Namun, dengan mempertimbangkan dinamika pemulihan di lapangan, tim mengalihkan fokus ke sekolah sebagai titik temu anak-anak yang terdampak langsung.
Kegiatan ini melibatkan tim dosen ISBI Aceh, antara lain Asrinaldi, M.Sn., Indra Setiawan, M.Sn., Nadra Akbar Manalu, M.Sn., dan Teuku Muhammad Husni, M.Pd., serta mahasiswa yang turut ambil bagian sebagai bentuk praktik nyata pengabdian.
Langkah ini sekaligus menegaskan satu hal bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya membangun fisik, tetapi juga harus menyentuh sisi terdalam manusia. Dalam konteks ini, ISBI Aceh menghadirkan seni bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai strategi utama penyembuhan.(rao)
Tulisan ini telah tayang di harianrakyataceh.com dengan judul “Saat Trauma Tak Bisa Diredam Kata, ISBI Aceh Pilih Seni untuk Menyembuhkan Anak-anak Bireuen”, klik untuk baca: https://harianrakyataceh.com/news/saat-trauma-tak-bisa-diredam-kata-isbi-aceh-pilih-seni-untuk-menyembuhkan-anak-anak-bireuen.